Sabtu, 08 Oktober 2011

STRUKTUR, PERKEMBANGAN DAN ALIRAN-ALIRAN DALAM GEOGRAFI


STRUKTUR, PERKEMBANGAN DAN ALIRAN-ALIRAN DALAM GEOGRAFI
A.     Struktur Geografi

Rhoad Murphey dalam buku “The Scope of Geografi” mengemukakan tiga pokok ruang kajian geografi.
a.       Persebaran dan keterbatasan penduduk di permukaan bumi dengan sejumlah aspek-aspek keruangan serta tata cara manusia memanfaatkannya
b.      Hubungan timbale balik antara manusia dan lingkungan manusia sebagai bagian studi keanekaragaman wilayah
c.       Kajian terhadap region atau wilayah secara komprehensif dan terpadu antar unsur-unsur

B.      Perkembangan Geografi

1.        Geografi di Zaman Kuno, Abad Pertengahan dan Renaisans

a)        Geografi di Zaman Yunani dan Romawi
Tokoh HERODOTUS (485-428 SM) selain “bapak ilmu sejarah”, juga sebagai “bapak ilmu geografi”. Ia menguraikan seluk-beluk keadaan tempat-tempat (dinamakan topografi) dan ia juga menerangkan mengapa halnya demikian sampai terjadi. Sebagai contoh dikemukakannya lembah Sungai Nil dengan tanah yang subur, apalagi daerah deltanya di sekitar muara itu sampai terjadi.
THALES (  ±580 sM) sudah memastikan bentuk bumi ini seperti bola bahkan ERATOSTHENES (±176-194sM) telah mengkalkulasikan ukuran panjang jari-jari bola bumi ke kutub Utara – kutub Selatan – Khatulistiwa dengan teliti. Begitu juga susunan jaringan garis lintang dan garis bujur bola bumi untuk menyatakan lokasi lautan, negeri, gunung, sungai dan kota.
Pengetahuan geografi dari bangsa Yunani ini kemudian diwariskan kepada bangsa Romawi kemudian berkembang lebih lanjut. Lahirnya geografi kuno dengan tokoh STRABO (64-20sM) yang menulis buku berjudul: Geographia – berisi uraian tentang dunia ini yang didiami manusia (istilah dalam bahasa Yunani Oikumene). Tokoh CLAUDIUS PTOLOMEUS (150sM) mengkonstruksikan berbagai peta serta lokasi tempat. Tokoh lain lagi POSIDONIUS (±100sM), berusaha dengan lebih cermat mengukur keliling bumi disbanding ERATOTHENES.

b)       Abad Pertengahan: Geografi Arab dan Eropa
Geografi umum dimaksud BERNHARDUS VARENIUS mencakup tiga bagian:
1)        Bagian terrestrial yakni pengetahuan tentang bumi sebagai keseluruhan, bentuk dan ukurannya
2)        Bagian falakiah yang membicarakan relasi dengan bintang-bintang lain sehingga dari sini muncul kosmografi
3)        Bagian komperatif yang menyajikan deskripsi lengkap mengenai bumi, letak relative dari tempat-tempat di permukaan bumi dan prinsip-prinsip dari pelayaran di lautan.
           
Geografi khusus terbagi atas tiga bagian:
1)        Aspek langit membicarakan iklim
2)        Aspek permukaan bumi atau lithosfera menyajikan relief, vegetasi, fauna di berbagai negeri
3)        Aspek manusia membicarakan berbagai penduduk, perniagaan dan pemerintahan di berbagai negeri.

2.        Awal Geografi Modern Abad ke-18

1.      IMMANUEL KANT
Menurut Immanuel Kant, semua pengetahuan dapat dikategorikan 3 (tiga) kelompok yaitu:
1)             Ilmu-ilmu sistematis  : misalnya biologi – tetumbuhan; geologi – kulit                                              bumi;
2)             Ilmu-ilmu histories    : misalnya fakta-fakta dalam relasinya dengan                                                 waktu, sejarah, pra-sejarah, sejarah geologi
3)             Ilmu-ilmu geografis  : misalnya benda-benda atau gejala-gejalayang                                                tersebar di dalam ruang; geografi dan kosmografi

Geografi fisis menyajikan sejarah permukaan bumi sehingga diperoleh uraian aspek lain dari geografi, menurut KANT ada 5 (lima) yaitu:
1)             Geografi matematis – mengkaji bentuk, ukuran dan perputaran bumi serta posisi dalam sistem matahari. (seperti keadaan iklim)
2)             Geografi moral/perilaku – mengkaji berbagai adat kebiasaan dan tabiat manusia di berbagai negeri (seperti tingkah laku manusia)
3)             Geografi politik – mengkaji relasi antara unit-unit politis, latar belakang alamnya masing-masing (seperti dasar Negara)
4)             Geografi perniagaan – mengkaji mengapa negeri tertentu memiliki komoditi khusus sehingga terlibat dalam perniagaan dunia (seperti minyak bumi. Tembakau Deli)
5)             Geografi theologies – mengkaji sejauh mana latar belakang alam menjadikan bentuk-bentuk ibadat lahiriah yang berlainan di berbagai negeri, walaupun agama sama (seperti tata ibadah)

2.      HUMBOLDT
Karya geograf Jerman ALEXANDER von HUMBOLDT (1769-1859) berjudul Flora Fribergensis membuat batasan di antara ilmu-ilmu pengetahuan menjadi 3 (tiga) golongan yaitu:
1)             Physiographie – tentang ilmu-ilmu alamiah yang sistematis
2)             Naturgeschichte – tentang sejarah alam dengan penekanan pada                                                perkembangan segala hal dalam waktu
3)             Geognesie oder Weltbeschreibung – tentang bumi atau dunia yang                                            membahas persebaran spatial

3.      CARL RITTER
Geograf Jerman bernama CARL RITTER (1779-1859) ini seorang yang bertaqwa, sehingga fahamnya bahwa Tuhan telah menciptakan bumi sebagai suatu sekolah latihan bagi umat manusia sehingga dari taraf kehidupan yang liar (barbar) manusia mampu meningkatkan diri menjadi manusia yang luhur secara spiritual.

3.    Sejarah Pertumbuhan geografi dan Perkembangan Wawasan
1.   Geografi dalam Abad ke-19
Pembukaan daerah-daerah baru di Amerika Serikat mendorong untuk meneliti arti lingkungan alam dan sumberdaya alam di pemukiman-pemukiman baru. Tokoh-tokohnya adalah Mayor POWELL (1834-1902) dan MARSH (1801-1882) menghendaki tehnik pengawetan sumber daya alam. Tujuannya untuk mencari sejauh mana pengaruh kondisi alam luar mempengaruhi kehidupan social manusia dan juga kemajuan social.
Anthropogeografi dari RATZEL (1844-1904)
FRIEDRICH RATZEL (geograf Jerman) sebagai tokoh yang mengkaji tentang pengaruh lingkungan fisis atas kehidupan manusia, sehingga muncul bukunya berjudul Anthropogeographie (1882) yang membahas: manusia adalah ciptaan alam belaka dengan cara yang sesuai dengan faham adaptasi manusia dan kemampuannya (faham DARWIN).
2.   Geografi dalam Abad ke-20
a.   Pendekatan Sosial Budaya
Ciri geografi abad ke-20 pendekatannya bercorak sosial-budaya disebut Human Geography atau Anthropogeography (akhir abad 19). Muncul pendekatan human geography atau pendekatan anthropogeography sebagai reaksi terhadap dominasi geografi alam. Topik dalam geografi alam missal: iklim – relief – selalu dikaitkan dengan kehidupan manusia, sehingga geografi mempelajari bumi sebagai tempat tinggal manusia.
b.    Geografi Budaya
CARL SUER (geograf Amerika, 1889-1975) tokoh geografi budaya (cultural geography) meletakkan dasar geografi budaya. Penekanan perhatian para geograf pada cirri budaya dari masyarakat disebut Cultural Geography dengan topik seperti bentuk pemukiman (desa, kota), tipe rumah, sebaran agama, bahasa, teknologi, ternak, dan tanaman, semuanya ini merupakan culture features (bentang budaya).

c.         Geografi Agama
Geografi Agama sebagai cabang dari geografi, muncul dalam abad  ke-20. Dalam tulisan JONGENEEL (1975): Ilmu Agama dan Theologi Kristen – bahwa tokoh geografi agama yaitu P.DEFFONTAINES – menulis Geograpie et religions dan D.E.SOPHER – menulis Geography of religion.
 P.DEFFONTAINES menegaskan 5 (lima) pokok perihal geografi agama yaitu:
-       Agama dan geografi : tempat kediaman bagi orang-orang yang masih hidup; bagi orang mati; bagi dewa-dewa
-       Agama dan penduduk : pengaruh agama atas daerah dan sejarah penduduk; agama dan macam-macamnya penduduk; agama dan kota-kota; agama dan demografi
-       Agama dan eksploitasi : agama dan pertanian; peranan faktor-faktor agamawi dalam peternakan; agama dan industry; korban-korban persembahan dan kondisi geografi daerah
-       Agama dan jenis-jenis kehidupan : agama dan makanan; agama dan pekerjaan sehari-hari; kalender; jenis-jenis tata kerja pelayanan pemimpin agama
d.        Geografi Ekonomi
Geografi ekonomi memperbincangkan hal-hal yang berhubungan dengan eksploitasi dari sumber daya alam dari bumi yang dilakukan manusia, produksi dan komoditi (bahan mentah, bahan pangan, bahan produksi) kemudian usaha transportasi, distribusi dan konsumsi.
e.       Geografi Marxisme
Marxisme menganut faham faktor-faktor dominan yang dapat mengubah manusia adalah organisasi social, sehingga mereka menolak geografi manusia.
Menurut CLARKE (geograf Rusia), geografi kependudukan : aspek-aspek produktif dari penduduk paling penting dalam menentukan persebaran penduduk, dan karena itu geografi kependudukan harus masuk ke dalam konsep kajian geografi ekonomi.
Geograf Rusia MELEZIN, mendefenisikan geografi kependudukan : suatu telaah atas sebaran penduduk atau relasi produktif yang terdapat di dalam berbagai kelompok penduduk, jaringan pemukiman dan fungsinya, manfaat serta ketepatgunaan bagi tujuan-tujuan yang produktif dan masyarakat.
POKSHISHEVSKI (geograf Rusia) membuat pernyataan terhadap defenisi geografi menurut geograf Rusia MELEZIN sebagai berikut :
a.       Tipe ekonomi yang menentukan watak, suku, bentuk suatu pemukiman
b.      Sebaran dan organisasi teristorial dari produk menentukan segala pernyataan dari kondisi alam dan pengaruhnya atas bentuk-bentuk permukaan bumi
c.       Adaptabilitas para migran terhadap suatu lingkungan geografis yang baru dipengaruhi oleh kebiasaan tata kerja dan keterampilan yang telah mereka miliki sebelumnya
d.      Situasi ekonomis-geografis dari kota-kota mempengaruhi tipe fungsi-fungsi serta pemusatannya.

3.    Arah Perkembangan Geografi Modern dan Geografi Mutakhir
ROGER MINSHULL (geograf Inggris – 1970) membahas tentang perkembangan geografi dalam kajian oleh geograf akhir-akhir ini melihat ada 3 (tiga) gejala :
Pertama    : jenis bidang khusus yang studinya bertambah – misal :                                             muncul geografi agama dan geografi penyakit sebagai                                                 spesialisasi yang baru
Kedua      : menganalisis masalah lebih menekankan pada kausalitas                                           dan hubungannya
Ketiga      : menelaah fenomena lebih diutamakan di mana fenomena                                         itu terdapat – jadi bukan bagaimana dan mengapa                                                            fenomena itu terjadi. Dengan demikian dapat diselidiki                                            lanjutan relasi antar gejala – misal : letak lahan pertanian,                                               hubungan pergedungan dengan jaringan jalan dan pasar                                           dan seterusnya

4.      Aliran-aliran Dalam Geografi
a.      Aliran Inklusionisme
     Belajar biologi – artinya mempelajari segala pembahasan masalah tentang manusia kenyataan bahwa manusia bagian dari alam. Tinjauan secara jasmaniah, manusia bagian dari bioma. Bioma adalah dunia tetumbuhan (flora) dan dunia hewan (fauna), sedang perilaku manusia ada sifat nabati (botani behaviour) dan sifat hewan (animal behavior). Faham yang menganut – manusia berada di dalam alam disebut Inklusionisme. Jadi faham inklusionisme adalah faham dari biologi.
b.      Aliran Eksklusionisme
     Belajar geografi – diperhadapkan dengan analisis masalah yang menyangkut manusia dan alam. Manusia berada di luar alam. Alam dipandang sebagai lawan maupun sebagai kawan – artinya alam dapat ditundukkan (lawan) demi mencapai kesejahteraan hidup; alam juga dapat diajak untuk menyesuaikan kemauan manusia (kawan), maupun manusia itu beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan alam. Faham yang memandang manusia dapat berdampingan dengan alam; manusia berada di luar alam disebut faham Eksklusionisme. Jadi geografi menganut faham eksklusionisme.

c.       Aliran Determinisme
     Geograf Jerman bernama FRIEDRICH RATZEL (abad 19), memperkenalkan kata determinisme alam. Faham determinisme dikembangkannya disebut ANTHROPOGEOGRAPIE. Pengertian determinisme dalam studi geografi – hidup manusia di permukaan bumi dipengaruhi dari faktor cuaca, iklim, ketersediaan air, jenis tanah, batuan, flora dan fauna.
Faham determinisme alam maupun faham determinisme geografi termasuk dalam Environmentalisme (lingkungan), karena berbagai kegiatan manusia banyak ditentukan langsung biofisis (kondisi flora dan kondisi fauna dan kondisi udara, tanah, morpologi).
d.      Aliran Possibilisme
PAUL VIDAL de La BLANCH (geograf Perancis) mengembangkan faham possibilisme. Faham possibilisme ini muncul sebagai suatu reaksi atas faham aliran geografi determinisme alam dari RATZEL. Faham possibilisme ini memperlihatkan bahwa alam tidak menentukan budaya manusia. Alam hanya sekedar menawarkan berbagai kemugkinan dan batas-batas untuk lahirnya suatu budaya, dan manusia bebas untuk memilih.
e.       Aliran Environmentalisme
JEAN BODIN (filsuf – politikus Perancis 1530-1596) mengembangkan faham environmentalisme. Faham environmentalisme tidak saja dikembangkan para geograf melainkan turut diikuti para filsuf dan politikus. Faham environmentalisme juga dikembangkan seperti MONTESQUIEU (filsuf Perancis dan tokoh Geografi agama) yang mengagumi peran topografi terhadap suatu Negara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar